Diambil dari kisah nyata di kota Malang :
(gambar hanya ilustrasi...)
Hari jumat siang, 13 April jam.10.30
ada seorang mahasiswi yang baru saja selesai mengumpulkan UTS take home mata kuliah Komunikasi Antar Pribadi, dia berniat ingin mengurus kelengkapan persyaratan untuk mendapatkan beasiswa di universitasnya.
Ketika itu, dia pergi ke warnet di belakang kampusnya untuk mencetak beberapa formulir dari website resmi kampusnya, namun setelah berjalan jauh... ternyata warnet tersebut tutup, padahal saat itu kakinya sedang sakit karena baru saja jatuh beberapa hari sebelumnya, kemudian ia memutuskan untuk istirahat dengan duduk sebentar di kursi yang ada di depan warnet tersebut, menarik nafas panjang lalu menghembuskannya berkali-kali, terlintas dipikirannya tentang tabungannya yang semakin sedikit karena terpakai untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak dia ingin menabung lebih banyak lagi dan menghemat sehemat-hematnya, tiba-tiba dia terpikir untuk segera cepat pulang saja, kemudian ia mencoba untuk menghubungi kakaknya yang berada di rumah agar menjemputnya di sana...
Namun tiba-tiba, ada seorang anak laki-laki yang menghampirinya..
kulitnya gelap terkena sengatan sinar matahari, wajahnya pucat mungkin karena kecapekan, rambutnya berantakan, pakaiannya lusuh, tidak memakai alas kaki, dan bibirnya pecah-pecah. Ekspresinya saat itu begitu sedih dan dia langsung duduk di samping mahasiswi tersebut, alangkah kagetnya mahasiswi itu, dia mengira anak itu adalah anak dari orang yang memiliki warnet tersebut, atau mungkin teman dari anaknya, atau mungkin tetangganya...
Dengan perlahan dia mulai bercerita...
"Mbaaak tolong saya..saya doakan mbak panjang umur kalau menolong saya... nenek saya sakit paru-paru sekarang di rumah sakit, saya butuh uang untuk bantu biaya nenek saya, saya boleh minta 20.000 aja mbak...? kalau mbak ada uang...tolong saya mbak..."
Mahasiswi ini semakin dibuat bertanya-tanya olehnya, lalu dia bertanya:
"Kamu disuruh siapa? memangnya orang tuamu nggak membiayai nenekmu...?"
Anak itu menjawab :
"Saya disuruh orang tua saya mbak...mereka hutang sana-sini untuk biaya nenek saya di rumah sakit, mereka minta tolong kepada saya supaya saya mencari uang 50.000 saja untuk membantu biaya nenek saya...saya nggak bohong mbak, saya berani kualat, demi Allah mbak..."
Lalu mahasiswi itu bertanya kembali :
"Hush! jangan sumpah-sumpah, hmmm...memangnya kamu ndak sekolah? ini kan hari jumat, masih siang lagi...Namamu siapa?"
Anak itu menjawab dengan muka sedikit bersedih :
"Saya sekolah kok mbak, saya kelas 3 SMP di SMP Muhammadiyah Blitar saya di taruh di panti asuhan Abba Abdipya Blitar sama orang tua saya, karena mereka nggak mampu biayai sekolah saya... nama saya Riko mbak..."
Mahasiswi ini mulai ragu akan apa yang diceritakan anak tersebut, lalu dia bertanya lagi :
"Sebentar lagi kan UNAS, terus gimana sekolahmu? Kalau kamu memang tinggal di panti asuhan, kok kamu bisa jalan-jalan begini???"
Anak itu kembali menjawab :
"Saya ijin umi di panti, saya bilang saya mau cari uang untuk nenek saya, saya disuruh orang tua saya, umi bilang boleh, ya sudah saya berangkat ke malang ikut kereta orang...
dari tadi pagi saya keliling saya baru dapat sedikit mbak...saya kasihan sama nenek saya mbak...kaki saya kena paku di